Sunni Dan Syiah Tak Mungkin Bersatu

0
62

M Rizal Fadillah — Dewan Pakar ANNAS Pusat

Usulan atau ungkapan (sok) bijak menyatakan umat Islam harus bersatu. Jangan berpecah antar sekte dan faham. Musuh harus dihadapi bersama. Sunni dan Syiah barus bersatu sebagai kekuatan umat Islam.

Lebih lanjut ujaran itu menegaskan bahwa memecah Sunni dan Syiah adalah pekerjaan Yahudi yang patut kita waspadai. Umat Islam di dunia menjadi lemah karena Sunni dan Syiah berjalan sendiri sendiri atau bahkan saling serang.

Seperti yang benar, padahal tidak. Penyederhanaan masalah soal persatuan Sunni dan Syiah  adalah manifestasi kedangkalan pemahaman tentang Sunni dan Syiah, atau bahkan Islam itu sendiri. Mengkonsolidasikan kekuatan umat tak akan bisa dengan cara pandang dan pemahaman yang dangkal tersebut.

Lima alasan mengapa Sunni dan Syiah tidak mungkin bersatu.

Pertama, bagi Sunni Quranul Karim itu final, sempurna, dan original. Syiah melihat Qur’an yang ada ini justru sebaliknya yakni tidak final, cacat atau tidak sesuai dengab aslinya. Masih ada ayat ayat yang ditunggu yang kelak dibawa oleh imam muntadhor (imam yang ghaib). Jika Al Qur’an saja dilihat berbeda status, maka sudah pasti deviasi pertentangan akan keras.  Satu dengan yang lain akan saling menafikan dasar pijakan kebenaran.

Kedua, Hadits yang yang dipegang dan diyakini  Sunni justru tidak dipegang dan diyakini oleh Syiah. Tak ada hadits Bukhori, Muslim, Ibnu Majjah, Turmudzi atau yang lainnya yang diakui oleh Syiah. Syiah memiliki hadits hadits sendiri yang dinisbahkan pada imam imamnya sendiri. Sunni mengkafirkan memahami hadits demikian. Begitu juga sebaliknya. Perbedaan soal apa itu dan bagaimana klasifikasi hadits itu, tak bisa dikompromikan. Ini menyangkut aspek ushuliyah bukan furu’iyah.

Ketiga, keimanan soal imamah nya Syiah ditolak keras oleh Sunni. Demikian juga wilayah. Imam yang hanya didasarkan pada keturunan Husen justru memporakporandakan ahlul bait Nabi. Menurut Sunni,  Syiah adalah penista kepemimpinan Nabi dengan berkedok kecintaan pada keluarga Nabi. Syiah menganggap Sunni tidak menghargai ahlul bait. Nyatanya makna ahlul bait satu dengan lain justru sangatlah berbeda.

Keempat, khulafaurrasyidin sangatlah dihormati dan dicintai oleh Sunni. Tanpa membedakan. Mereka adalah sahabat utama Nabi. Namun bagi Syiah itu wujud penghianatan, objek penghujatan. Hanya Ali yang diakui. Penistaan di satu sisi dan pembelaan di sisi yang lain memastikan terjadinya friksi dan konflik. Apalagi yang dinistakan juga istri istri Rosulullah SAW.

Kelima, Syiah bercita cita membangun kerajaan syiah di dunia dengan konsep wilayatul faqih. Sunni terancam hegemoni keyakinan seperti ini. Sunni membebaskan negeri pada bentuk yang beragam.  Yang pokok Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman. Perebutan kekuasaan yang diawali dengan pembinaan dan infiltrasi adalah jalan yang ditentang Sunni. Tak mungkin berkolaborasi pada misi yang bertolakbelakang. Bagi masyarakat Sunni, Syiah adalah ancaman akidah, syariah dan politik suatu negeri.

Dari hal ini tak mungkin Sunni dan Syiah bersatu. Syiah memandang kaum nawashib (non Syiah) itu kafir. Begitu juga pandangan ahlus sunnah wal jamaah (sunni) menegaskan keyakinan bahwa Syiah itu rusak akidah. Kekafiran yang nyata. Jika satu dengan yang lain memosisikan sesat, lalu persatuan model apa yang bisa diharapkan. 

Konteks Indonesia yang historis dan sosiologisnya diisi oleh komunitas pemahaman Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) maka kehadiran  dan perkembangan Syiah itu dinilai membahayakan akidah, syari’ah, dan NKRI. Potensi perpecahan dari kehadiran Syiah sangatlah besar. Menyatukan minyak dengan air adalah mustahil. Buanglah minyak agar air tetap jernih.