Dokter Di AS Takut Tangani Pasien Corona Karena Kurang Alat Pelindung

0
50

Para dokter dan perawat di garis depan krisis pandemi virus corona di Amerika Serikat, menyerukan lebih banyak alat pelindung diri dan peralatan untuk menangani gelombang pasien yang membludak.

Seruan ini disampaikan di tengah melonjaknya jumlah kasus penderita COVID-19 di AS yang kini telah menembus angka 100 ribu kasus, dengan lebih dari 1.600 kematian.

Seperti dilansir kantor berita Reuters, para dokter di AS menyerukan adanya perhatian khusus akan kebutuhan ventilator yang banyak dibutuhkan oleh para pasien coronavirus yang sakit parah.

Rumah sakit-rumah sakit di New York City, New Orleans, Detroit dan zona-zona merah virus corona lainnya juga telah menyatakan kekhawatiran akan kurangnya obat-obatan, alat medis dan staf terlatih.

“Kami takut,” kata Dr. Arabia Mollette dari Brookdale University Hospital and Medical Center di Brooklyn.

“Kami mencoba berjuang demi nyawa semua orang, namun kami juga berjuang untuk nyawa kami, karena kami berada pada risiko tertinggi untuk terpapar,” cetusnya seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (28/3/2020).

Di sebuah rumah sakit di Manhattan, seorang manajer perawat, Kious Kelly, meninggal usai terinfeksi virus corona.

Kematian perawat berumur 48 tahun tersebut makin memicu ketakutan para pekerja medis yang telah menghadapi kekurangan parah peralatan yang sangat dibutuhkan, termasuk baju pelindung plastik dan masker bedah.

Diana Torres yang merupakan rekan kerja Kelly, mengatakan bahwa staf rumah sakit “bersedih” karena Kelly telah “membayar harga termahal.”

Torres mengatakan bahwa rumah sakit tempatnya bekerja mengalami kekurangan alat pelindung diri. Baju pelindungnya pun harus dipakai ulang.

“Saya tak punya apapun untuk melindungi kepala saya, tak ada untuk sepatu saya,” ujarnya. “Ada rasa putus asa. Semua orang ketakutan,” imbuhnya.

Negeri bagian New York sejauh ini telah mencatat lebih dari 44.600 kasus positif corona, dengan hampir 6.500 orang dirawat di rumah sakit saat ini.